Sejarah sepakabola Philipina tidak sebaik Indonesia. Meskipun Philippine Football Federation (PFF) telah berdiri sejak 1907, namun prestasi timnasnya jauh dari apa yang dicapai timnas Indonesia.
Namun yang menarik untuk disimak adalah mengapa Philippina mampu melakukan lompatan jauh. Mengapa tiba-tiba Philippina mampu mempermalukan Indonesia 0-4 di ajang Piala AFF 2014.
Bahkan hanya dalam hitungan tidak lebih dari dua tahun, Philippina mampu mengagetkan timnas negara-negara Asia Tenggara. Betapa tidak. Per-24 Oktober 2014, peringkat FIFA Philippina meroket ke urutan 129. Tertinggi di Asia Tenggara dan salah-satu yang terbaik di Asia.
Dua tahun lalu tepatnya November 2012, peringkat FIFA Philippina hanya bertengger di posisi 189. September 2006 peringkat FIFA Philippina masih berada di 195.
Apa sesungguhnya yang terjadi di organisasi PSSI-nya Philippina (PFF) beberapa tahun terakhir? Kepada media massa seperti diberitakan koran Bulletin Today beberapa waktu lalu, Ketua PFF Mariano Araneta mengatakan sebetulnya tidak ada yang terlalu istimewa. ''Hanya tekad kami semua untuk mengangkat kualitas dan prestasi tim nasional Philippina. Kami ingin mampu bersaing di level yang lebih tinggi.''
Lima tahun lalu media massa Philippina ramai memberitakan kebijakan PFF untuk memperkuat kualitas tim nasionalnya dengan pola naturalisasi. Kebijakan ini kemudian diamini oleh semua pemangku kepentingan sepakbola di Philippina. Ketua PFF saat itu, Jose Mari Martinez, menilai inilah langkah terobosan yang menjadi pilihan jika Philippina ingin bersaing. Setidaknya di level Asia Tenggara.
Prioritas pertama pemain yang akan dinaturalisasi adalah mereka yang ber-Ibu Philipina. Maka ditemukanlah nama sejumlah pemain yang ber-Ibu Philipina dan ber-Ayah non-Philipina.
Tidak heran kemudian, pada Piala AFF 2014, sebagian besar pemain timnas Philippina berasal dari Spanyol, Inggris, Italia, Amerika Serikat, Jerman, Swiss, Belanda, Denmark, Jepang bahkan Iran. Para pemain blasteran dari ke-10 negara inilah yang kemudian ''mengajari'' tim asuhan Alfred Riedle bagaimana cara bermain sepakbola yang baik dan benar pada 25 November lalu.
Substansi dari hal menarik ini adalah bagaimana tekad PSSI-nya Philippina (PFF) mengambil langkah berani untuk kepentingan bangsa dan negaranya. Tidak diam dan hanya duduk termenung ketika menghadapi kebuntuan. Semua pemangku kepentingan sepakbola Philipina bersatu, demi nama baik negaranya.
Patut kita tiru, Karena itu untuk lima tahun kedepan, PSSI sangat membutuhkan figur pemimpin sekelas Mariano Araneta. Kita punya nama-nama yang punya komitmen tinggi untuk membangun sepakbola Indonesia. Ada Wakil Ketua MPR-RI Osman Sapta Odang, mantan Menpora Hayono Isman, Bupati Kutai Timur Isran Noor. Ada juga tokoh muda dalam persepakbolaan Indonesia, mantan anggota DPR-RI yang kini Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Achsanul Qosasih.
Pemangku kepentingan sepakbola Indonesia patut memberi kesempatan kepada nama-nama baik ini. Karena kita tidak ingin sepakbola Indonesia terperosok di lubang yang sama sampai berkali-kali.
(Tommy Rusihan Arief/Pemerhati Sepakbola)
0 komentar:
Posting Komentar