Jika Menpora dan BOPI menyetujui PT. GTS jadi operator liga yang baru, berarti mereka secara terang benderang dan terbuka "melecehkan" tekad maupun semangat reformasi sepakbola Indonesia yg dikumandangkan Presiden Jokowi dgn 3 kalimat yg sering dilontarkan Presiden: "harus total", "jangan tanggung-tanggung" dan "revolusi mental". Pertanyaannya, kenapa harus kembali ke "penjahat2" sepakbola itu lagi dgn hanya ganti jubah..??? Bukankah Presiden mengambil keputusan membekukan PSSI setahun lalu didasarkan kepada "kejahatan" sistematis yang mereka lakukan sehingga merusak persepakbolaan Indonesia
Banyak pihak yang mampu dan selama ini tidak mendapat peluang yang adil. Untuk Liga Amatir, ada Badan Sepakbola Rakyat Indonesia (BASRI) yang secara organisasi dan personil sudah sangat siap. Apalagi posisi BASRI selama ini jelas mendukung kebijakan Presiden dan Menpora dalam masalah ini. Kalau memang spiritnya adalah perubahan "total", "jangan tanggungtanggung" dan dilandasi semangat "revolusi mental" organisasi BASRI adalah datang dari posisi netral dan tidak di pihak kiri ataupun kanan. BASRI baru saja sukses menggelar Menpora Cup 2015 di Belitung Timur yang diikuti 34 tim mewakili provinsi seluruh Indonesia. BASRI yang berdiri sejak 2005 juga dugagas oleh tokoh-tokoh nasional seperti Wapres Jusuf Kalla, Wiranto,Sutiyoso, Surya Pallo, dan tokoh nasional lainnya. Sudah tentu akan jauh kebih terhormat dan elegan bagi pemerintah, karena BASRI adalah muka baru yang lebih nasionalis. Ketimbang kembali ke wajah lama yang berganti baju baru. Majulah sepakbola Indonesia..! (Tommy R.Arief)






0 komentar:
Posting Komentar