Ads 468x60px

Labels

AGUM TERSEOK,FIFA TERPOJOK

This is default featured slide 1 title

Easy to customize it, from your blogger dashboard, not needed to know the codes etc. Video tutorial is available, also a support forum which will help to install template correctly. By DeluxeTemplates.net

This is default featured slide 2 title

Easy to customize it, from your blogger dashboard, not needed to know the codes etc. Video tutorial is available, also a support forum which will help to install template correctly. By DeluxeTemplates.net

This is default featured slide 3 title

Easy to customize it, from your blogger dashboard, not needed to know the codes etc. Video tutorial is available, also a support forum which will help to install template correctly. By DeluxeTemplates.net

This is default featured slide 4 title

Easy to customize it, from your blogger dashboard, not needed to know the codes etc. Video tutorial is available, also a support forum which will help to install template correctly. By DeluxeTemplates.net

This is default featured slide 5 title

Easy to customize it, from your blogger dashboard, not needed to know the codes etc. Video tutorial is available, also a support forum which will help to install template correctly. By DeluxeTemplates.net

Senin, 18 April 2016

Jangan Lecehkan Semangat Presiden


Jika Menpora dan BOPI menyetujui PT. GTS jadi operator liga yang baru, berarti mereka secara terang benderang dan terbuka "melecehkan" tekad maupun semangat reformasi sepakbola Indonesia yg dikumandangkan Presiden Jokowi dgn 3 kalimat yg sering dilontarkan Presiden: "harus total", "jangan tanggung-tanggung" dan "revolusi mental". Pertanyaannya, kenapa harus kembali ke "penjahat2" sepakbola itu lagi dgn hanya ganti jubah..??? Bukankah Presiden mengambil keputusan membekukan PSSI setahun lalu didasarkan kepada "kejahatan" sistematis yang mereka lakukan sehingga merusak persepakbolaan Indonesia

Bukankah waktu itu Presiden melalui Menpora Imam Nahrawi telah memiliki data yang cukup dan valid sebelum mengeluarkan putusan tertanggal 17 April 2015 itu. Pertanyaan kemudian, jika pemerintah kemudian seperti kurang yakin dengan data yang dimiliki  Kemenpora yang menjadi dasar keluarnya keputusan pembekuan PSSI, disinilah letak masalahnya. Berarti pemerintah bisa terbalik menjadi pihak yang dapat diposisikan sebagai "perusak" sepakbola Indonesia. Karena dengan kebijakan pemerintah yang terkesan ambigu, masyarakat sepakbola Indonesia sudah cukup cerdas untuk membuat kesimpulan. Salah-satu aspek yang bisa menjadi referensi masyarakat adalah ketidak jelasan sikap pemerintah dalam hal PT. GTS. Padahal sudah sangat jelas bahwa petinggi dan personil PT. GTS adalah orang orang yang mengelola PT. Liga sebelumnya yang notabene adalah figur-figur di PSSI. Permainan kamuflatif seperti ini hanyalah kepurapuraan yang akan memperpanjang malapetaka untuk sepakbola Indonesia. Kenapa Presiden dan Menpora tidak mendorong perubahan total dengan memberi ruang dan kesempatan yang adil kepada operator baru.


Banyak pihak yang mampu dan selama ini tidak mendapat peluang yang adil. Untuk Liga Amatir, ada Badan Sepakbola Rakyat Indonesia (BASRI) yang secara organisasi dan personil sudah sangat siap. Apalagi posisi BASRI selama ini jelas mendukung kebijakan Presiden dan Menpora dalam masalah ini. Kalau memang spiritnya adalah perubahan "total", "jangan tanggungtanggung" dan dilandasi semangat "revolusi mental" organisasi BASRI adalah datang dari posisi netral dan tidak di pihak kiri ataupun kanan. BASRI baru saja sukses menggelar Menpora Cup 2015 di Belitung Timur yang diikuti 34 tim mewakili provinsi seluruh Indonesia. BASRI yang berdiri sejak 2005 juga dugagas oleh tokoh-tokoh nasional seperti Wapres Jusuf Kalla, Wiranto,Sutiyoso, Surya Pallo, dan tokoh nasional lainnya. Sudah tentu akan jauh kebih terhormat dan elegan bagi pemerintah, karena BASRI adalah muka baru yang lebih nasionalis. Ketimbang kembali ke wajah lama yang berganti baju baru. Majulah sepakbola Indonesia..! (Tommy R.Arief)

Selasa, 01 Maret 2016

Menjelang Kongres PSSI

 Agum Terseok, FIFA Terpojok


      Judul diatas mengingatkan kita pada KONGRES PSSI yang dilaksanakan 20 Mei 2011 bertepatan dengan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Itulah kongres yang tercatat dalam sejarah persepakbolaan nasional, sebagai kongres yang paling krusial. Belum pernah dialami oleh PSSI,suatu intervensi yang luar biasa dari FIFA pada waktu itu. Akibat, “kericuhan” dalam internal PSS, FIFA terpaksa menempatkan PSSI dalam keadaan darurat, sehingga harus membentuk Komite Normalisasi (KN), setelah organisasi induk persepakbolaan internasional itu membentuk Komite Darurat (Komdar) FIFA. Kini nama Agum Gumelar kembali mencuat dan terseok kembali di gawang yang sama, sepakbola Idonesia. Padahal Agum baru saja menemui Presiden Jokowi bersama Menpora dan memberikan komentar di media, bahwa pembekuan PSSI akan di cabut. Tapi lagi-lagi Agum terseok, setelah statemennya itu dibantah oleh dua menteri Jokowi. Lalu apa komentarnya? “biarlah masyarakat yang menilai ini semua,” ujar mantan Danjen Kopassus yang satu ini.

Bagi Agum Gumelar, ini bukan hal baru dialaminya. Dahulu, di era Ketua Umum PSSI dijabat Nurdin Chalid, keributan juga terjadi dan Agum Gumelar juga ditunjuk FIFA sebagai Ketua Ketua Komisi Normalisasi (KN) sesuai Pasal 7 ayat 2 Statuta FIFA, mengambil alih tugas dan wewenang Komite Eksekutif PSSI. Tugas berat yang disandang Komite Normalisasi PSSI bentukan FIFA pada waktu itu adalah bagaimana mengakomodasi LPI,menyenggarakan kongres,hingga memutuskan keabsahan tiga calon kuat  Ketua Umum PSSI yang dianulir. Kuncinya adalah rekonsiliasi dua kubu. Nirwan Bakrie dan Arifin Panigoro sebagai figure ideal untuk memimpin PSSI.  Agum tidak sendirian pada posisi anggota terdapat nama-nama Joko Driyono (CEO PT Liga Indonesia),Sukawi Sutarip pengurus provinsi  PSSI Jawa Tengah), Siti Nurzanah (Arema Indonesia),F.X Hadi Rudiyatmo (Persis Solo), Syamsul Ashar (Persik Kediri), Syatim Sofyan (pengurus Provinsi PSSI Banten), dan Ditoyo ramono (PSPS Pekanbaru). Sebagaimana Agum, nama-nama itu ditunjuk langsung oleh FIFA.  


Langkah pertama yang dilakukan Komdar FIFA pada waktu itu, adalah tidak mengakui Kepengurusan Nurdin Halid (NH), karena dianggap tidak kridibel, dan  gagal melaksanakan Kongres 26 Maret 2011 sebagaimana yang ditetapkan FIFA. Kongres yang dilaksanakan di Hotel Premiere, Pekanbaru,Riau dengan melibatkan petinggi FIFA terkesan  sengaja dibatalkan NH dan dkk, bahkan “kabur” ke Jakarta memboyong perutusan FIFA dan AFC. Namun demikian 78 pemilik suara sah dari 100 anggota PSSI, tetap melaksanakan kongres. Namun kongres ini ternyata tidak diakui FIFA, meskipun hasilnya cukup konkrit bagi reformasi persepakbolaan nasional.  Sejak Kongres Pekanbaru itulah lahir nama Kelompok 78 (K-78), yang terus dipakai sampai dilaksanakannya Kongres 20 Mei.

      Akibat kaburnya NH dan konco-konconya dinilai oleh pemerintah sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab, sehingga Menpora menjatuhkan sanksi; membekukan kepengurusan yang dipimpin oleh NH dan Sekjen Nugraha Besoes. Pelaksanaan tugas kepengurusan diserahkan kepada KONI Pusat. Sejarah kelompok Statusquo yang selama sewindu menguasai persepakbolaan nasional dengan gaya ororiter dan “semau gue” sejak itu berhasil ditumbangkan. Kekhawatiran masyarakat sepak bola Tanah Air, bahwa FIFA akan “membekukan” PSSI, karena campur tangan pemerintah ke dalam PSSI, ternyata tidak terbukti, bahkan FIFA memberi dukungan, setelah menetapkan NH- Besoes tidak pantas lagi mengurus PSSI.

       Hal inilah yang kemudian mendorong FIFA membentuk Komdar dan produk pertamanya adalah membentuk KN yang diketuai oleh Jenderal TNI (Pur) Agum Gumelar (AG), yang menjabat Ketua Kehormatan PSSI, mantan Ketum PSSI dan Ketum KONI Pusat. Penunjukan AG dinilai oleh seluruh stakeholder sepak bola nasional sebagai keputusan yang tepat. Maklum, selama ini AG dianggap paling kridibel dan netralitasnya sangat menonjol.

      Sayang, dalam melaksanakan tugasnya sebagai Ketua KN, pelan-pelan tetapi pasti, bisa dirasakan terutama oleh K-78 dan insan persepakbolaan nasional, bahwa KN sengaja dibelokkan sebagai “pembebek” kepada FIFA, apalagi setelah AG berkunjung ke markas besar FIFA di Zurich, Swiss menemui Presiden FIFA Sepp Blatter dan Direktur Keanggotaan Asosiasi dan Pengembangan FIFSA Thierry Regenass, untuk “memperjuangkan” penolakan FIFA terhadap 3 orang tokoh sepak bola nasional, George Toisutta (GT) yang menyalonkan diri untuk Ketum PSSI periode 2011-2015 dan Arifin Panigoro (AP) sebagai calaon Waketum PSSI dan Nirwan D. Bakrie (NDB), sesuai dengan keputusan Komite Banding Pemilihan (KBP) yang dibentuk oleh Exco pimpinan NH yang jelas illegal, karena bertentangan dengan Statuta FIFA. Anehnya, keputusan sebuah komite illegal, diakui FIFA, suatu hal yang tentunya bisa dinilai sebagai keputusan yang konyol.

     Ketika berada di Zurich, baik Blatter maupun Regenass, AG sama sekali tidak mendapat jawaban atas pertanyaan; apa salah AG, AP dan NDB? Padahal ketiganya telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan Statuta FIFA untuk masuk dalam Exco PSSI. Lebih konyol lagi, ternyata FIFA menetapkan pula KN sebagai Komite Pemilihan (KP), padahal dalam suratnya jelas KN adalah pengganti Exco PSSI yang sudah “dibekukan”nya. Sebagai pelaksana tugas Exco PSSI, sesuai statuta FIFA, jelas tidak dibenarkan berfungsi pula sebagai KP. Itu sebabnya dalam pertemuan KN dengan semua pemilik suara sah, 14 April  di Hotel Sultan, pertemuan tersebut kemudian diputusankan sebagai kongres dan berhasil membentuk KP dan KBP. Namun FIFA yang berhasil disusupi ide-ide statusqo dari oknum Exco Pimpinan NH, KP hasil Kongres Sultan, tidak diakui FIFA namun KBP-nya, yakni Ahmad Riyadh, Umuh Muchtar dan Rio Denamore disahkan oleh FIFA.

       Pada saat-saat semakin mendekat ke Kongres 20 Mei, AG yang sudah terkontaminasi ide statusquo, merasa “paling berkuasa” dan bisa berbuat apa saja, sehingga  5 orang anggota KN yang terpilih dari K-78 dengan gampang diberhentikannya. Ini bolehjadi AG takut adanya voting dalam KN, padahal voting dibenarkan oleh Statuta FIFA. Apalagi Standard Electoral Code (SEC) FIFA, jelas menyatakan; keharusan demokrasi dan keterbukaan. AG ternyata lebih senang bertindak otoriter. Joko Driyono salah seorang anggota KN yang ditetapkan pula sebagai Plt Sekjen, namun  tetap jadi Anggota KN dan KP, padahal sekjen tidak dibenarkan merangkap jabatan KP (tertulis jelas dalam SEC).

      Kebijakan dan tindakan AG semakin menjurus ke arah statusquo, karena ia selalu berlindung pada surat-surat FIFA, padahal jelas nilai surat jauh berada di bawah statuta. Di sinilah orang bertanya-tanya, ada apa dengan AG, kenapa sikapnya bisa berubah 180 derajat? Catat pula bagaimana kelompok statusquo merekayasa, menghadirkan NDB di kantor PSSI, di mana adik Ketua Umum Partai Golkar itu membikin pernyataan, legawa untuk tidak menyalonkan diri sebagai waketum PSSI, sebagai strategi untuk memancing emosi insan sepak bola, agar antipasti pada GT dan AP yang tetap bersikap, tidak mau legawa/mundur.

     Hal inilah yang melahirkan opini, ternyata semua tindakan AG yang kebablasan itu, ada “master mind”nya yakni oknum pro statusquo yang ingin membalas dendam kepada K-78. Maklum, kelompok statusquo bukan saja sudah dipermalukan di Pekanbaru, tetapi juga pada Kongres Sultan dan di lain-lain kesempatan, terutama di altar media massa.

      Begitu terpengaruhnya AG dengan gaya NH dkk, sehingga atas nama FIFA, KN nekad tidak mengakui Keputusan KBP menetapkan GT dan AP yang tidak diikut-sertakan dalam verifikasi KP, melalui banding keduanya ditetapkan berhak ikut pencalonan Ketum dan Waketum. Padahal keputusan KBP jelas bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat, sebagaimana keputusan KBP “made in” NH dkk.

      Oleh karena perlakuan semena-menang KN, GT dan AP memajukan gugatan ke Court of Arbitration for Sport (CAS) melalui pengacara internasional Patrick Mbaya, seorang pengacara terkenal berkebangsaan Belgia keturunan Kongo/Afrika dan pernah menduduki kursi hakim CAS. Setelah mendalami semua berkas yang disampaikan padanya, Patrick berkesimpulan, bahwa FIFA telah melanggar sendiri beberpa pasal statutanya, sehingga posisi terlihat menjadi AG terseok-seok dalam melaksanakan fungsinya sebagai ketua KN saat-saat mendekati jadwal kongres. Dalam keterseokan ini, AG mencari celah baru untuk memojokkan K-78, yakni dengan membesar-besarkan isu adanya intervensi pihak TNI AD untuk melakukan mosi tidak percaya terhadap dirinya. Isu yang dilontarkan AG, dijawab dengan tegas oleh Kadispen AD pada waktu itu, Brigjen Wiryantoro, bahwa seharusnya sebagai mantan seorang perwira tinggi AD, AG tidak melemparkan hanya isu. “Kita kan bukti, bukan isu?” Kata Kadispen AD.

      Posisi AG semakin terpojok, ketika Patrick Mbaya datang ke Jakarta dan memberitahukan, bahwa CAS telah menyampaikan keputusan sela yang menyebutkan Indonesia tidak bisa dijatuhkan sanksi oleh FIFA, (selama ini “sanksi FIFA” itulah yang selalu dijadikan tameng oleh AG untuk “menakut-nakuti” komunitas sepak bola nasional, dengan tujuan agar berpihak padanya), karena terbukti FIFA-lah yang telah melanggar konstitusinya,  bukan K-78 yang sejak awal telah berjuang untuk menegakkan pasal demi pasal Statuta FIFA dan SEC termasuk juga Statuta PSSI.


 Dalam Kongres 20 Mei, jelas K-78  berhasil menegakkan reformasi PSSI  sebagaimana yang direkomendasikan oleh Kongres Sepak Bola Nasional di Malang yang digagas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 31 Maret-1 April 2010. Rekomendasi KSN Malang tersebut, sama sekali tidak digubris PSSI dengan berbagai macam dalih.***

Senin, 29 Februari 2016

BASRI BEACH SOCCER sepak bola dari tepian pantai

SEPAK BOLA INDONESIA DI PUJA DAN DI OLOK-OLOK


SEPAK BOLA INDONESIA DI PUJA DAN DI OLOK-OLOK

Sebagaimana politik, olahraga yang paling merasuki manusia apalagi yang paling digemari di negeri kita, hanya sepak bola.Saudara-saudara sebangsa tega lempar-lemparan batu ketika klub kesayangan bertanding. Di tempat lain ada yang rebah berkuah darah dan diusung pulng sebagai jenazah gara-gara membela kesebelasan sekampung. Indonesia Malaysia dua negeri serumpun juga jadi musuh bebuyutan bila ke dua tim bertemu di final. Saat ini ketika PSSI mendapat sanksi FIFA, semua saling nuding. Yang satu menyalahkan pemerintah, yang lain menuding oknum PSSI sebagai biang keroknya. Akibatnya, bukan saja Menteri Olahraga tapi Presidenpun ikut pusing tujuh keliling. 


Menurut majalah Matra di edisi khusus mereka tahun 1995. Seperti halnya politik, sepakbola  juga rajin diperguncingkan orang. Tokoh politik di puja-puja ketika berjaya,dan dikeroyok ramai-ramai begitu jatuh. Sama halnya dengan politik, sepakbola  memang arena beresiko tinggi sekaligus berimbalan tinggi. Politikus kalau menang bisa jadi raja. Jika kalah, dikirim ke pengasingan, atau dijerat KPK masuk bui. 


Maka, selayaknya politik, sepak bola banyak melahirkan cerita dan olok-olok berikut copas majalah Matra yang pernah saya baca.

ALPA KARENA SEPAK BOLA


 Seorang istri tiba-tiba mengeluh kepada suaminya tentang perkawinan mereka yang terancam bubar. "Kau tak pernah membawakanku berjalan-jalan,"katanya, "Tak pernah membelikanku hadiah.Tak pernah pulangjika ada pertandingan bola.Tak pernah ingat hari ulang tahunku Aku berani bertaruh, kau lupa tanggal kita kawin!"


"Tentu saja aku ingat, Sayang,"kata suaminya. "Itu bertepatan dengan kisruhnya PSSI dengan Menpora." 


Minggu, 06 Desember 2015

BRUR ADA di kota ternate


Ternate Malut Pos. 

Kamis 3 Desember 2015 lalu merupakan kesempatan terakhir bagi pasangan Calon Walikota Ternate BUR ADA untuk tampil di kampanye terbuka Kota Ternate,  Sedari siang ditengah terik matahari  cukup panas tifosi BUR ADA mengalir menuju lapangan Ngara Lamo, sebuah alun-alun di tepian pantai di kaki gunung Gamalama Ternate, Tua muda, laki perempuan numplek di lapangan Ngara Lamo Salero. Dekorasi panggung yang digarap sangat apik oleh IO lokal donominasi warna biru dan sejumlah bendera partai pengusung berkibar menjulang ke angkasa membuat pemandangan berubah bagaikan sebuah invent pegelaran musik, itulah sepenggal potret kampanye BUR ADA awal Desembet lalu. 


Mantan Prediden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajak masyarakat Kota Tetnate memilih pasangan calon Wali Kota dan Wakil Walikota Ternate H.Burhan Abdurahman-Abdulallah Taher (BUR ADA). Suara asli SBY itu menggema mampu menghipnotis warga kota Ternate yang hari Itu berada di lapangan SEPAKBOLA Ngara Lamo. Panasnya matahari siang itu sepertinya lenyap menjadi sejuk. Semua orang diam tanpa suara mendengarkan orasi politik mantan Presiden RI yang juga sebagai Ketua Umum Partai Demokrat secara cermat, "Memang luar biasa SBY ini", puji ABDULAH salah satu pendukung BUR ADA usai mendengarkan ajakan SBY yang dikemas dalam sebuah CD dan diperdengarkan kepada puluhan ribu simpatisan BUR ADA. "Pilihlah pemimpin yang peduli rakyat, pemimpin yang mau merasakan kesusahan masyarakat, pemimpin yang membela kepentingan rakyat," ajak SBY. "Waduh SBY pantas kembali untuk memimpin negeri ini," pinta ibu Devi warga Kampung Makasar Ternate, kepada Tommy R. Arief, Koorwil PD Malut, usai menghadiri kampanye BUR ADA
Menurut SBY, pemimpin yang memimpin kota Ternate adalah pemimpin yang mumpuni dan telah membuktikan komitmennya untuk Mensejahterakan masyarakat. "Saya mengajak masyarakat untuk memilih pasangan BURHAN Abdurahman dan ABDULLAH Taher karena telah membuktikan kepeduliannya kepada masyarakat," kata SBY.  Disambut tepuk tangan meriah, hidup SBY, hidup SBY. 

Diakhir orasi politiknya, SBY berharap pemilihan Wali Kota dan Wakil Walikota Ternate berlangsung aman, tertip, dan lancar, tutup SBY-. (TRA)





Sabtu, 04 Juli 2015

Malut Siap Rebut Piala Menpora LIDI 2015

JAKARTA-Tim sepakbola Maluku Utara yang tengah dipersiapkan menghadapi Turnamen Liga Desa Indonesia (LIDI) 2015 di Belitung, 4 Agustus-5 September 2015 di Belitung Timur, siap jadi kampiun. Turnamen yang digelar Badan Sepakbola Rakyat Indonesia (BASRI) di bawah asuhan Edi Sofyan akan diikuti 34 tim.

Maluku Utara, kata Ketua Korwil kawasan Timur, khususnya Maluku Tomy R. Arief, rencananya akan menduduki posisi Grup H yang dihuni tim lainnya yakni Kalimantan Barat, Riau, dan Sulawesi Tengah. “Maluku Utara, rencananya akan main di Lapangan Tungkup. Saya kira Maluku Utara akan mudah melaju ke babak berikutnya dengan melewati Riau, Kalbar, dan Sulteng,” jelas Tomy R. Arief, mantan Direkatur Media PSSI di eranya Djohar Arifin.

Tomy menjelaskan, kenapa Maluku Utara akan mudah lolos ke babak berikutnya, karena materi pemain-pemainnya cukup mumpuni. “Apalagi, selama ini Maluku Utara sering menyumbangkan pemain-pemain nasional. Dan perlu dicatat di sana segudang pemain berbakat ada di sana. Dan, Maluku Utara tidak pernah kekurangan atau kehabisan pemain,” ungkap pria asal Maluku Utara ini yang juga tercatat sebagai pengamat sepakbola.

Hal senada diucapkan sang kreator Maluku Utara, Arizona Hadmadji. Sebanyak 18 pemain tengah dipersiapkan pria yang berdomisili di Bogor ini untuk mengikuti LIDI 2015. Adapun ke-18 pemain tersebut, kata Arizona, berasal dari sekitar Maluku Utara, sepetti dari Ternate, Tidore, Halat, Bacan, Jaikalo,  dan beberapa daerah lainnya.

“Kami siap tampil sebaik mungkin. Juara itu memang cita-cita. Tapi, sampai sekarang masih memikirkan soal dana menjelang berangkat ke Belitung Timur. Mudah-mudahan pemerintah daerah melalui Dispora bisa memfasilitasi dan membantu kami berangkat mengikuti event yang selama sebulan ini,” ujar Arizona.Jok   

Jokowi dan Sepakbola

Dua komitmen yang ditegaskan Presiden Joko Widodo sejak kampanye Pilpres 2014. Jika menjadi Presiden Republik Indonesia, dia hanya akan tunduk pada dua hal. Pertama: konstitusi negara. Kedua: keinginan rakyat Indonesia.

Sampai hari ini, Presiden Jokowi, tetap menjaga dan memelihara komitmen dasar tersebut. Bahkan orang-orang dekat Jokowi berani mengatakan bahwa jika sudah menyangkut dua hal tersebut, Jokowi tidak akan pernah bergeming. Satu centimeter sekalipun.
Induk dari Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah UUD 45. Lalu, bagaimana soal keinginan rakyat banyak? Puncak dari kedaulatan rakyat adalah Pemilihan Presiden. Sejak 2014, rakyat Indonesia sudah memilih Jokowi menjadi Presiden hingga 2019.
Diantara sekian banyak aspek kehidupan yang terkait langsung dengan kepentingan rakyat adalah sepakbola. Bagi rakyat Indonesia, sepakbola adalah permainan sekaligus hiburan nomor satu. Mulai dari kampung-desa sampai ke perkotaan.

Pada hakekatnya, sepakbola adalah milik rakyat. Bagi masyarakat Indonesia, sepakbola sudah menjadi properti yang mustahil terpisahkan. Maka (mungkin) ketika Menpora harus memilih tidak mengakui keberadaan (membekukan) PSSI untuk menjaga marwah dari hakekat sepakbola milik rakyat, Jokowi tidak bergeming. Sedikitpun! Presiden Jokowi mahfum sepenuhnya bahwa sebagian besar rakyat Indonesia yang sebetulnya menjadi pemilik prinsipil dari sepakbola itu sendiri, berbaris mendukungnya.

Sepakbola adalah permainan yang fenomenal dan mempesona. Tanpa rakyat sebagai pelaku, penonton, pembeli karcis, yang menyebabkan iklan dalam pertandingan sepakbola bernilai miliaran dolar pertahun, tidak ada sepakbola. Tanpa rakyat yang menonton pertandingan sepakbola, siaran televisi sehebat apapun, tidak akan ada artinya. Tanpa penonton, tidak akan ada omzet miliaran dolar dalam kompetisi sepakbola.

Dalam konteks Indonesia, pihak yang paling berhak untuk dimintai pendapat adalah rakyat. Seluruh lapisan masyarakat harus menjadi pelaku aktif dalam semua bentuk kegiatan sepakbola, termasuk organisasinya. Pendapat segelintir atau sekelompok orang (yang mempunyai kepentingan langsung maupun tidak langsung dengan benefit dari kegiatan sepakbola) yang bahkan dipaksa untuk diulang-ulang sebagai bentuk pemaksaan opini, bisa mengelabui. Meskipun rakyat pemilik sepakbola Indonesia, tidak akan pernah lagi bisa dikelabui melalui pemakasaan opini yang re-run.

Memang harus dicari jalan keluar terbaik untuk menata ulang sistem persepakbolaan nasional. Sebagai penyelenggara negara, pemerintah melalui Menpora berusaha mencari celah terbaik guna menyiasati situasi. Sepakbola nasional yang berkualitas dan bermartabat harus diselamatkan. Rakyat sebagai pemilik sepakbola tidak akan pernah mau lagi dikelabui melalui berbagai cara yang sangat manipulatif.
Dari dimensi inilah, nalar kita mungkin bisa lebih obyektif melihat fenomena sepakbola Indonesia. Dan dari dimensi ini pula tokoh sekelas Presiden Jokowi, memandang sepakbola Indonesia. Bukan dari ketinggian di tribun VVIP, tetapi dari pinggir pagar pembatas di pinggir lapangan. Sehingga apa yang bergelorah di benak Jokowi, tidak akan pernah nyambung dengan sudut pandang kaum elitis sepakbola Indonesia yang sudah terbiasa menonton dari tribun VVIP yang sejuk dan nyaman. (Tommy Rusihan Arief/Mantan Direktur Media)